“Kenapa kamu tidak berpikir?” (Al-An“amm: 50)

Salah satu pilar yang paling penting dalam ajaran Islam yaitu menghargai akal manusia dengan selalu menyerukan manusia untuk selalu berfikir dan dan menggunakan akalnya dalam melakukan perbuatan apapun. Dalam Islam posisi akal sangatlah di hormati dan di junjung tinggi, dalam Quran, Allah banyak membuat ayat-ayat yang menyuruh manusia untuk memperhatikan dan berfikir bagaimana langit dan bumi di ciptakan, bagaimana Allah menurunkan air hujan dari langit, bagaimana Allah menjadikan manusia itu bersuku- suku dan berbangsa-bangsa. Ini merupakan seruan yang diberikan kepada Allah agar manusia mempergunakan akalnya. Di Akhir-akhir ayat yang menerangkan tentang ciptaanNya, Allah juga mengingatkna kepada manusia untuk selulu berfikir dan mendorong manusia menggunakan akalnya dengan sebaik-baiknya:

“Kenapa mereka tidak berfikir?”

“Kenapa mereka tidak mengetahui?”

“Kenapa mereka tidak mempergunakan akalnya?”

Selain itu di ayat lain Allah juga berfirman dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan:

“Apakah kamu perhatikan sesuatu yang kamu tanam?”

“kamikah yang menumbuhkannya atau kamu yang menumbuhkannya?”

“adakah kamu perhatikan air yang kamu minum?”

“Kamukah yang menurunkannya dari awan atau kamikah yang menurunkannya?”

“Apakah kamu perhatikan api yang kamu nyalakan dengan kayu?”

“kamukah yang menjadikan kayunya atau kamikah yang menjadikannya?”.

(Q.S Al-Waqi’ah: 63-64;68-69; 71-72).

Seperti inilah cara Islam menghargai dan menyerukan kepada manusia untuk selalu menggunakan akalnya dalam perbuatannya. Karena akal lah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk Allah lainnya. Karena akal lah Allah menjadikan manusia Khalifah di muka bumi. Dan karena akal pula Allah menyerukan malaikat, jin, dan iblis untuk bersujud kepada Adam.

Mohammad Natsir dalam tulisannya pernah mengatakan, salah satu jasa Islam atas manusia dan kemanusiaan ialah “mobilisasi akal”, membuka dan menggerakkan akal manusia yang selama ini tidak mendapat tempat semestinya dalam kehidupan mana saja

Umat Islam wajib menggunakan akalnya untuk memahami ayat-ayat Allah baik yang tersirat ataupun yang tersurat, hal ini dimaksudkan agar Umat islam mengerti dan memahami esensi dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Karena sesunggahnya Al-quran itu memang diturunkan untuk orang-orang yang mau berfikir. Dan oleh karenanya islam sangat melarang Orang yang mengerjakan sesuatu yang di anggap kebenaran tetapi tidak tahu dan tidak mengerti landasan dan nilai-nilai dalam kepercayaan itu sehingga kepercayaan itu di anggap suatu kebenaran.

Intinya, Allah melarang Umatnya untuk bertaklid Buta kepada suatu paham atau pemikiran tanpa tahu bagaimana landasan pemikiran tersebut.

Hal ini lah mungkin yang menyebabkan berkembangnya dengan pesat aliran-aliran sesat seperti Al-qiyadah (dengan Mossadeg nya), Salamullah (dengan Lia Aminudin nya) dan Ahmadiyah (dengan Mirza Ghulam Ahmad nya). Orang- orang yang mengikuti aliran-aliran seperti ini tidak mempergunakan akalnya dalam memahami ajaran-ajaran Islam. Mereka menerima saja pemahaman- pemahaman yang jelas-jelas menyimpang dari ajaran Islam, tanpa mencari tahu dan memahami landasan- landasannya.

Dalam kehidupan sehari-hari pun terkadang kita juga seperti itu. kita melakukan sesuatu yang kita anggap suatu bentuk ibadah, tetapi kita tidak paham dan mengerti maksud dan tujuan dari ibadah yang kita lakukan. Mungkin sampai saat ini masih ada di antara kita yang belum mengerti untuk apa kita melakukan shalat lima waktu, puasa, naik haji, dan ibadah- ibadah lainnya. Atau mungkin kita juga belum tahu dimana posisi ayat Quran yang memerintahkan kita untuk sholat dan berpuasa.

Mengenai hal ini Allah berfirman:

“Dan jangan lah engkau turut-turut saja apa yang angkau tidak punyai pengetahuan atasnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu, semuanya akan di tanya tentang itu”. Q.s. Bani Israil: 36)

Kedudukan akal dalam Islam begitu tinggi. Ayat-ayat di atas yang berbentuk pertanyaan-pertanyaan tadi merupakan pesan Allah kepada manusia untuk memaksimalkan akal yang di berikan Tuhan kepada manusia. Buah dari memaksimalkan penggunaan akal adalah ilmu pengetahuan. Dan Islam juga sangat menganjurkan untuk umatnya untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Kalau kita menelisik sejarah, sekitar abad ke- 9 sampai abad ke 18, pada masa itu merupakan masa-masa kejayaan umat islam. Dimana pada berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu astronomi, sosiologi, filsafat, matematika,ekonomi, musik, sastra, arsitektur berkembang cukup pesat. Majelis-majelis ilmu begitu ramai di kunjungi, usaha-usaha untuk menerjemahkan karya-karya Imiah dari yunani seperti karya aristoteles, plato dan ilmuan-ilmuan Helenisme dilakukan, Kebebasan berpikir begitu di junjung tinggi. Sehingga orang-orang pada saat itu begitu antusias terhadap ilmu pengetahuan. Pada saat itu Islam bukan hanya sekedar ideologi, tetapi telah menjadi great civilitation yang menjadi pusat peradaban dunia.

Kita sering mendengar nama- nama besar seperti Albert Enstein, Isac Newton, Sigmeud Freud, Auguste Comte, Immanuel Kant,dan Vasco da Gama. Kita kenal terhadap mereka sebagai orang-orang yang menemukan teori- teori ilmiah. Namun kita harus ingat orang-orang yang menjadi inspirasi dan munculnya ide-ide awal kenapa mereka bisa menemukan teori- teori besar tersebut.

Sebelum Enstein menemukan rumus E= mc2, terlebih dahulu Al- Khawarizmi menemukan bilangan Biner. Jauh sebelum Comte membuat The scientific labors necessary for the reorganitation of society nya, Ibn Khaldun telah menjelaskan masalah-masalah mengenai stuktur dan stratfikasi social dalam “Al- Muqqadimah” nya. Al- Asy”ari yang dalam teori falsafahnya tentang ‘ainus- sya’I tidak kalah hebat bila di bandingkan dengan teori “Das Ding an Sich” dari Immanuel Kant. Kebebasan berpikir dan kemerdekaan akal telah melahirkan nama- nama besar seperti mereka.

M. Natsir dalam salah satu essay pernah menganalogikan mengenai eksistensi akal pada diri manusia, Ia mengataka:

Akal merdeka ibarat api yang berbentuk lampu yang gemerlapan memimpin kita dari gelap gulita kepada terang benderang, tapi sering kali ia menyala berkobar-kobar, menyiar bakar rumah dan gedung, melicin tandaskan apa yang ada..!!

Akal merdeka atau kebebasan berpikir yang Natsir maksud di ibaratkan api yang berbentuk lampu, ia dapat menjadi penerang, petunjuk, yang dapat mengantarkan Manusia kepada jalan kebenaran. Tapi di satu sisi, ia juga bisa seperti api yang menyala berkobar-kobar yang dapat melemahkan dan menyesatkan manusia.

Di satu sisi, kebebasan berpikir yang di berikan oleh manusia juga dapat menjerumuskan manusia kepada jurang kesesatan. Manusia mulai memikirkan apa yang tidak bisa di jangkau oleh akal dan berpikir menyimpang. Dengan alasan kebebasan berpikir, orang bisa saja menafsirkan Quran sesuai dengan rasio dan hawa nafsunya semata, mereka membelokkan dan memelintir ayat sesuai dengan kepentingannya. Lantaran kebebasan berpikir inilah Seorang Salman Rusydy membuat Satanic Verses nya yang mengatakan Quran itu tak lebih hanyalah karangan Muhammad yang bersumber dari setan (naudzubilliahi min dzalik). Di karenakan kebebasan berpikir inilah pada akhirnya Al- Hallaj berkata: “Ana al Haq”, aku Tuhan, yang pada akhirnya mengantarkannya di tiang gantungan. Di karenakan kebebasan berpikirlah juga lah pemikiran, dan aliran-aliran sesat saat ini bertaburan.

Kebebasan berpikir telah mengantrakan dan mengiringi jalannya peradaban Islam yang begitu besar di masa lalu. Namun kebebasan berpikir jualah yang menjadi penyebab mundurnya Umat Islam saat ini. Akal yang di berikan oleh Tuhan untuk berpikir saat ini telah menguasai manusia. Allah bukan lagi sesuatu yang absolute, di karenakan manusia saat ini telah menuhankan akal. Manusia telah terjebak kepada suatu taklid yang bernama Rasioanalisme. Harun Nasution dalam bukunya yang berjudul “pembaharuan dalam Islam” mengutip apa yang dikatakan oleh Jamaludin Al- afghani bahwa kemunduran umat Islam bukanlah karena Islam, sebagaimana di anggap, tidak sesuai dengan zaman dan kondisi saat ini[4]. Umat islam mundur karena telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya dan mengikuti ajaran-ajaran dari luar dan asing bagi Islam. Ajaran Islam yang sebenarnya hanya tinggal ucapan dan dalam teks-teks suci saja.

Islam merupakan agama yang sesuai dengan fitrah manusia, dan karenanya apa-apa yang menjadi pokok dari ajaran islam tidak lah mungkin bertentangan dengan akal manusia. Dalam Islam, kemerdekaan akal dan kebebasan berfikir sangat lah di junjung tinggi dan di muliakan. Mempergunakan akal adalah salah satu dari dasar-dasar Islam, oleh karena itu tidak sempurna iman seseorang apabila tidak didasari dengan akal. Dan ini terbukti islam telah menjadi pusat peradaban dunia pada masanya. Namun di satu sisi, kebebasan ini juga dapat menjerumuskan manusia kepada jurang kesesatan, yaitu Kemerdekaan akal yang sudah tidak lagi di iringi oleh ghirah keimanan, namun oleh hawa nafsu yang menjadikan akal itu superior dan di atas segala-galanya. Untuk membentengi hal ini, hendaknya umat Islam haruslah membentengi dirinya dengan ajaran- ajaran Islam. Kemerdekaan akal yang merupakan fitrah manusia, haruslah di iringi dengan dasar- dasar keimanan yang kuat. Jangan biarkan akal yang kita miliki berjalan sendiri tanpa ada yang mengarahkan dan membentengi.

Akal yang kita miliki di ibaratkan sebagai kapal, dan iman di ibaratkan sebagai nakhoda. Tugas Nakhoda adalah mengarahkan kapal agar sampai tujuan, walaupun ombak di laut begitu ganas. Dan untuk sampai ke tujuan, nakhoda harus jeli dalam mengarahkan kapal. Jangan biarkan kapal menabrak karang dan batu-batu cadas yang ada di laut.

Rujukan Utama

M. Natsir. Capita Selecta I. Yayasan Bulan bintang dan Media Dakwah. Jakarta. 2008.

Azhari Akmal Tarigan. Jalan ketiga pemikiran Islam HmI. Cipta Pustaka. Bandung. 2008.

Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam; sejarah pemikiran dan gerakan. Bulan bintang. Jakarta. 1996.



[1] Karya ilmiah ini di tulis dalam rangka memenuhi prasyarat untuk mengikuti program mahasiswa berprestasi Dies natalis Universitas Nasional yang ke- 5

[2] M. Natsir. Capita Selecta. Yayasan bulan bintang dan Media Dakwah. Jakarta. 2008.

[3] Azhari Akmal Tarigan. Jalan ketiga pemikiran Islam HmI. Cipta Pustaka. Bandung. 2008

[4] Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam; sejarah pemikiran dan gerakan. Bulan bintang. Jakarta. 1996

0 komentar: